Mengetuk Pintu di Idul Adha 1447 H Bersama PSI Cianjur

Memilih melanjutkan hari raya ke ranah yang sering luput dari perhatian publik, rumah-rumah warga yang biasanya tidak masuk daftar undangan acara mana pun
Saya Memilih Mengetuk Pintu: Catatan Idul Adha 1447 H Bersama PSI Cianjur
Di Idul Adha 1447 Hijriah ini, saya memilih untuk tidak berhenti pada momentum sembelih hewan kurban di lapangan. Saya memilih untuk melanjutkan hari raya ke ranah yang lebih sering luput dari perhatian publik: rumah-rumah warga yang biasanya tidak masuk dalam daftar undangan acara mana pun.

Penyaluran 150 paket sembako DPD PSI Kabupaten Cianjur di momentum Idul Adha 1447 H
Bersama jajaran pengurus DPD PSI Kabupaten Cianjur, kami mengantarkan tujuh puluh paket sembako kepada kaum duafa dan anak yatim yang tersebar di sejumlah RT/RW di lingkungan Kabupaten Cianjur. Bukan dengan menggelar acara terpusat. Bukan dengan meminta penerima datang ke posko. Tetapi dengan mengetuk pintu satu per satu, mendatangi mereka di tempat tinggalnya sendiri.
Bagi saya, ini bukan sekadar agenda sosial partai. Ini adalah cara saya memahami apa arti hari raya bagi mereka yang sering tidak ikut merayakannya secara penuh.
Mengapa Saya Memilih Datang Sendiri
Saya percaya satu hal: ketua partai tidak cukup hanya menandatangani daftar penerima dan menitipkan paket kepada pengurus untuk disampaikan. Ketua partai harus turun, ikut menurunkan paket dari bagasi, dan menyerahkannya dengan kedua tangan.
Ini bukan soal pencitraan. Ini soal makna. Pemberian yang dilakukan langsung dari tangan yang memutuskan kepada tangan yang menerima punya bobot yang berbeda dari pemberian yang hanya disalurkan melalui rantai distribusi. Yang diserahkan bukan hanya isi paket, tetapi juga sebuah pengakuan: bahwa nama orang itu, hari itu, dianggap penting cukup untuk didatangi.
Saya mengalami hari raya seperti ini sebagai pengingat. Pengingat bahwa partai politik diuji bukan pada saat ia berbicara di mikrofon, melainkan pada saat ia mengetuk pintu, mengucapkan salam, dan menunggu dibukakan.

Penyerahan langsung paket sembako dari tangan ke tangan
Tujuh Puluh Nama, Bukan Sekadar Tujuh Puluh Paket
Daftar penerima yang kami susun bukan daftar acak. Setiap nama di atasnya adalah hasil verifikasi pengurus tingkat ranting yang berhari-hari bekerja sebelum hari pelaksanaan: siapa di RT mana yang termasuk duafa, siapa yang menanggung cucu yatim, siapa lansia yang tinggal sendiri tanpa anak yang sempat menengok.
Bagi saya, daftar itu adalah bentuk politik yang paling tidak retoris. Ia bukan slogan, bukan klaim, bukan janji. Ia adalah catatan tentang siapa di Cianjur yang paling membutuhkan, hari itu.
Maka tujuh puluh paket yang kami antar bukan sekadar angka logistik. Ia adalah tujuh puluh keluarga, tujuh puluh cerita, tujuh puluh wajah yang mungkin tidak pernah disebut dalam pidato resmi mana pun, tetapi yang justru menjadi ukuran paling jujur dari ada atau tidaknya kehadiran partai di akar rumput.

Tujuh puluh paket sembako untuk kaum duafa dan anak yatim di Kabupaten Cianjur
Idul Adha yang Tidak Selalu Terdengar
Saya menyadari bahwa Idul Adha biasanya dirayakan dengan suara takbir di lapangan, dengan antrean panjang di depan masjid, dengan asap dari pemotongan hewan kurban. Tetapi ada bagian dari Idul Adha yang nyaris tidak terdengar: hari-hari setelahnya, ketika semuanya kembali ke rutinitas, dan keluarga-keluarga yang tidak ikut menerima jatah daging kembali pada perhitungan harian kebutuhan pokoknya.
Inilah celah yang saya ingin kami isi sebagai pengurus partai. Bukan untuk meramaikan hari raya, melainkan untuk memastikan agar mereka yang biasanya tidak ikut diingat tetap terhitung sebagai bagian dari hari raya itu sendiri.
Beras, minyak goreng, gula, dan beberapa kebutuhan rumah tangga lain. Isi paketnya sederhana, tidak istimewa. Tetapi yang membuatnya berarti, menurut saya, bukan isinya. Yang membuatnya berarti adalah caranya yakni dengan ia diantar dan bukan dititipkan, bukan disuruh diambil di kantor partai, melainkan dibawa langsung ke teras rumah masing-masing.
Dari Pintu ke Pintu, dari Nama ke Nama
Mobil operasional partai bergerak perlahan dari satu RT ke RT yang lain. Di salah satu titik, seorang lansia berkopiah putih dan bersarung kuning menyambut kami di depan pintu rumahnya. Ia menerima paket dengan dua tangan, tersenyum tipis, tidak banyak bicara. Saya ingat momen itu dengan cukup jelas, bukan karena ada yang istimewa, tetapi justru karena tidak ada yang istimewa. Yang ada hanya sapa, terima kasih, dan pamit.
Di titik lain, seorang ibu paruh baya menerima paket sambil tangan kirinya memegang dinding pintu. Ia mengucap terima kasih singkat, lalu kembali masuk ke rumah. Tidak ada pose foto yang diatur. Yang diambil oleh tim dokumentasi hanyalah momen serah terima yang berlangsung apa adanya, kadang di pinggir jalan, kadang di teras rumah, kadang di samping mobil dengan latar belakang bagasi yang terbuka.
Ada sesuatu yang penting bagi saya dalam cara seperti ini. Cara yang memaksa pemberi untuk masuk ke dalam ruang hidup penerima dan bukan menariknya keluar ke acara seremonial, bukan membuatnya berbaris di antrean, bukan menjadikannya bagian dari panggung yang sebenarnya bukan miliknya.

Penyaluran dari pintu ke pintu di lingkungan warga Cianjur
Menjaga Bahwa Partai Tetap Punya Tangan
Salah satu hal yang sering saya pikirkan adalah bahaya yang dialami partai politik ketika ia mulai kehilangan tangan. Bukan tangan dalam arti kekuasaan, melainkan tangan dalam arti harfiah: tangan yang mengetuk pintu, tangan yang menyerahkan paket, tangan yang menggenggam tangan warga ketika menyapa.
Partai yang hanya hidup di rapat dan di panggung adalah partai yang sudah kehilangan tangannya. Ia mungkin masih punya suara, masih punya struktur, masih punya logo. Tetapi ia tidak lagi punya alat untuk hadir di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Karena itu, kegiatan tebar sembako di Idul Adha kali ini bagi saya bukan kegiatan tambahan di luar agenda politik. Justru sebaliknya. Ia adalah agenda politik itu sendiri, dalam bentuknya yang paling dasar. Politik yang mengantar. Politik yang mengetuk. Politik yang menyerahkan dengan kedua tangan.

Kebersamaan pengurus DPD PSI Cianjur dengan warga penerima
Catatan yang Akan Saya Lanjutkan
Tujuh puluh paket di hari raya kali ini hanyalah satu titik kecil dari rangkaian kerja yang lebih panjang. Beberapa bulan terakhir, saya sudah memilih untuk turun langsung ke 18 kecamatan untuk konsolidasi, dan akan berlanjut hingga seluruh 32 kecamatan di Cianjur. Di bulan Ramadan lalu, kami menggelar buka puasa bersama dan menyantuni anak yatim serta lansia. Di Idul Adha ini, kami mengantar paket sembako dari pintu ke pintu.
Pola yang akan saya terus jaga adalah pola yang sama: bahwa partai harus diukur dari kerja-kerja kecilnya, bukan dari kemegahan agenda seremonialnya.
Saya tidak ingin DPD PSI Kabupaten Cianjur dikenal karena banyaknya spanduk. Saya ingin ia dikenal karena namanya pernah mengetuk pintu seseorang yang sedang menanti perhatian. Saya ingin partai ini terus belajar untuk hadir di hari-hari biasa, di rumah-rumah yang biasanya tidak menjadi alamat undangan.
Karena pada akhirnya, hari raya bukan hanya tentang banyaknya hewan kurban yang dipotong di lapangan. Hari raya juga tentang banyaknya pintu yang sempat dikunjungi.
Dan untuk itu, saya akan terus mengetuk. Terus mengantar. Terus mendatangi. Terus menyerahkan dengan kedua tangan.
Karena saya percaya, kehadiran tidak bisa diwakilkan. Dan partai politik yang ingin tetap punya makna, harus berani mendatangi sendiri.
Lanjutkan Membaca

.png&w=3840&q=75)
