Kursi Itu Sedang Diisi Sekarang
.png&w=3840&q=75)
Sebuah surat untuk kamu yang peduli pada Cianjur, tapi memilih menontonnya dari jauh
Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi kamu sudah melakukan bagian yang paling sulit.
Kamu memperhatikan. Di saat sebagian besar orang memilih menutup mata, kamu justru membuka matamu lebar-lebar. Kamu tahu jalan mana yang rusaknya sudah bertahun-tahun. Kamu tahu layanan mana yang berbelitnya tidak masuk akal. Kamu membaca berita daerah ini sampai larut, lalu mengetik panjang di kolom komentar, di grup percakapan, di unggahan yang kamu tahu mungkin tidak akan banyak dibaca orang.
Kamu melakukannya bukan karena kamu membenci Cianjur. Kamu melakukannya justru karena kamu mencintainya, dengan cara yang membuatmu tidak bisa diam saat melihatnya disia-siakan. Itu bukan hal kecil. Kepedulian yang bertahan, di tengah begitu banyak orang yang sudah lama menyerah dan memilih apatis, adalah sesuatu yang langka. Jangan pernah meremehkannya.
Tapi surat ini ditulis justru karena ada satu hal yang ingin disampaikan kepadamu, sejujur mungkin, dari satu orang yang peduli kepada orang lain yang juga peduli. Kepedulian, sekuat apa pun, ternyata punya satu titik di mana ia berhenti bekerja.
Jarak yang Sependek Itu, dan Semahal Itu
Ada jarak yang sangat pendek antara peduli dan bertindak. Begitu pendeknya, sampai sering tidak terlihat. Tapi di jarak yang sependek itulah, selama bertahun-tahun, Cianjur terus kalah. Mari bicara dengan angka, bukan dengan perasaan. Karena angka tidak punya kepentingan untuk membesar-besarkan apa pun.

Cianjur adalah tanah yang kaya. Ia lumbung padi Jawa Barat, rumah bagi beras Pandan Wangi yang namanya dikenal jauh melampaui batas daerahnya. Pada 2024, ekonominya tumbuh 5,14 persen, angka yang di atas kertas terdengar sehat. Penduduknya 2,58 juta jiwa, dan 63 persen di antaranya berada di usia produktif. Di atas kertas, Cianjur punya segalanya untuk melesat dari tanah, hasil bumi, dan manusia muda yang berlimpah.
Lalu kenapa kenyataannya terasa begitu jauh dari potensi itu?
Karena di balik angka pertumbuhan yang sehat itu, ada angka lain yang jarang diucapkan. Indeks Pembangunan Manusia Cianjur pada 2024 berada di angka 69,09 yang terendah dari seluruh 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Bukan salah satu yang terendah. Yang paling rendah. Rata-rata lama sekolah warganya hanya 7,22 tahun, setara kelas satu SMP. Artinya, secara rata-rata, anak-anak Cianjur berhenti belajar sebelum mereka sempat benar-benar memulai.
Tanahnya subur, hasilnya melimpah, ekonominya tumbuh tapi manusianya tertinggal paling belakang di seluruh provinsi. Inilah paradoks yang seharusnya membuat kita semua tidak bisa tidur nyenyak: daerah yang kaya, dengan rakyat yang belum sempat ikut menjadi kaya.
Dan beban paradoks ini, seperti hampir selalu terjadi, jatuh paling berat di pundak yang paling muda.
Generasi yang Diminta Bersabar Terlalu Lama

Jawa Barat hari ini masih memiliki satu masalah, provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia. Dan di dalam angka itu, ada pola yang lebih getir lagi. Kelompok usia 15 sampai 24 tahun adalah penyumbang pengangguran terbesar, dengan angka yang nyaris tiga kali lipat rata-rata umum. Lulusan SMK justru pendidikan yang dirancang untuk langsung bekerja, dan justru yang banyak dicetak Cianjur punya tingkat pengangguran tertinggi dibanding semua jenjang lainnya.
Bacalah angka itu pelan-pelan, karena di baliknya ada wajah.
Wajah anak muda yang baru lulus, memegang ijazah, dan mendapati bahwa daerahnya sendiri tidak punya cukup tempat untuknya. Maka ia melakukan apa yang dilakukan ratusan ribu orang sebelumnya dengan mengemasi barang, dan pergi merantau. Meninggalkan desa yang membesarkannya, untuk mencari hidup di kota yang tidak mengenalnya.
Setiap anak muda yang pergi adalah satu potensi yang hilang dari Cianjur. Bukan karena ia tidak mencintai kampungnya, tapi karena kampungnya belum diberi alasan yang cukup untuk membuatnya tinggal. Dan di sinilah pertanyaan itu mulai terasa personal. Karena keputusan-keputusan yang menentukan apakah seorang anak muda Cianjur harus pergi atau bisa tinggal keputusan soal pendidikan, soal lapangan kerja, soal ke mana anggaran daerah mengalir yang tidak pernah diambil di kolom komentar tempat kita selama ini bersuara.
Keputusan itu diambil di satu ruangan. Ruang sidang. Oleh lima puluh orang yang duduk di kursi DPRD Kabupaten Cianjur.
Pertanyaannya sederhana, dan agak mengganggu selama ini, siapa yang duduk di kursi-kursi itu? Dan apakah mereka benar-benar mewakili dua juta lebih warga yang masa depannya mereka putuskan?
Ketika Tidak Ada yang Menjaga

Untuk memahami kenapa kursi itu begitu penting, ingatlah satu peristiwa yang masih membekas saat gempa November 2022.
Hari itu, tanah Cianjur berguncang dan meruntuhkan begitu banyak hal sekaligus. Lebih dari tiga ratus nyawa hilang. Hampir enam puluh ribu rumah rusak. Sekolah, tempat ibadah, fasilitas kesehatan semua ikut runtuh. Kerugiannya ditaksir menyentuh angka 1,6 triliun rupiah. Dan setelah guncangan berhenti, datanglah ujian yang sesungguhnya yakni bagaimana memulihkan semuanya, dengan adil, tanpa ada satu pun yang tertinggal.
Pemulihan itu berjalan lambat. Rumah-rumah hunian tetap diserahkan bertahap, dan sebagian baru rampung lebih dari setahun setelah bencana. Sampai di sini, mungkin masih bisa dimaklumi; membangun kembali memang butuh waktu.
Tapi ada catatan yang lebih sulit dimaklumi. Badan Pemeriksa Keuangan menilai penanganan bencana ini "belum memadai" menyoroti persoalan dalam pengelolaan logistik, layanan kesehatan, dan penyaluran bantuan. Dan di tengah duka yang belum reda, muncul laporan dugaan penyelewengan bantuan, kabar bahwa sebagian bantuan untuk korban diduga dialihkan dan dikemas ulang. Apa pun hasil akhirnya nanti di mata hukum, satu hal sudah cukup jelas dari peristiwa ini.
Bantuan bencana adalah salah satu titik yang paling rawan diselewengkan. Justru di saat orang-orang paling membutuhkan, di saat uang mengalir paling deras, di situlah pengawasan paling dibutuhkan dan paling sering absen.
Lalu siapa yang seharusnya menjaga? Siapa yang tugasnya bertanya keras: ke mana uang ini pergi, kenapa bantuan ini tidak sampai, siapa yang bertanggung jawab?
Jawabannya, lagi-lagi, kembali ke kursi-kursi itu. Karena salah satu tugas paling mendasar seorang wakil rakyat bukanlah memotong pita atau berfoto di acara. Tugasnya adalah menjadi mata dan telinga rakyat di ruang tempat uang dibagi dan keputusan diambil. Menjadi penjaga.
Dan ketika penjaganya lemah, atau tidak benar-benar hadir, yang membayar harganya selalu rakyat yang paling tidak berdaya.
Jalan yang Dilupakan Selama Tiga Puluh Tahun
Kalau angka-angka tadi terasa terlalu besar untuk digenggam, ada satu cerita kecil yang merangkum semuanya.
Di Cianjur selatan, ada ruas jalan yang menghubungkan Kadupandak dan Takokak. Jalan itu sudah rusak parah selama hampir tiga puluh tahun. Bukan tiga puluh bulan. Tiga puluh tahun. Ia melewati pergantian enam bupati. Enam kali masa jabatan, enam gelombang janji kampanye, dan jalan itu tetap rusak seperti semula. Itu cerita lama, walaupun kini ada perbaikan dan lebih banyak jalan yang bagusnya.
Namun, bayangkan apa artinya tiga puluh tahun bagi orang yang tinggal di sana. Seorang bayi yang lahir saat jalan itu mulai rusak, kini sudah dewasa, mungkin sudah punya anak sendiri dan jalan di depan rumahnya tidak pernah benar-benar berubah. Satu generasi penuh tumbuh besar di atas janji yang tidak pernah ditepati.

Dan ini bukan cerita lama. Pada awal 2026, sebuah peristiwa sempat menyita perhatian, seorang ibu hamil terpaksa ditandu warga, karena ambulans tidak bisa melewati jalan yang rusak menuju rumahnya. Di tahun ketika manusia sudah bicara soal kecerdasan buatan, seorang ibu di Cianjur masih harus digotong di atas tandu untuk bisa melahirkan dengan selamat. Ini bukan yang pertama, namun yang kesekian.
Secara keseluruhan, sekitar 77 persen jalan kabupaten memang sudah dalam kondisi mantap. Tapi sisa yang ratusan kilometer itu bukan sekadar angka ia terkonsentrasi di selatan, di tempat-tempat yang paling jauh dari sorotan, dihuni orang-orang yang suaranya paling jarang didengar.
Pola ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Janji datang setiap musim pemilu, lalu menguap begitu suara selesai dihitung. Bukan karena masalahnya terlalu sulit dipecahkan memperbaiki jalan bukan ilmu roket tapi karena tidak cukup banyak orang di dalam ruang keputusan yang benar-benar memperjuangkannya sampai tuntas.
Jalan yang rusak selama tiga puluh tahun itu bukan kegagalan teknik. Itu kegagalan keterwakilan.
Diam Bukan Posisi yang Aman
Sampai di titik ini, mungkin ada perasaan yang familiar muncul, perasaan bahwa semua ini memang menyedihkan, tapi bukan urusan kita untuk menyelesaikannya. Bahwa tugas kita cukup sampai pada peduli, mengkritik, dan berharap ada orang lain orang yang lebih tepat, lebih siap, lebih layak yang akan masuk dan membereskannya.
Di sinilah letak kekeliruan yang paling halus, dan paling mahal.
Selama ini kita mengira bahwa memilih diam adalah posisi netral. Tidak ikut campur, tidak ambil bagian, tidak salah. Berdiri di pinggir lapangan terasa seperti tempat yang aman, tempat di mana tangan kita tetap bersih.
Tapi coba pikirkan ulang. Kursi-kursi di ruang sidang itu tidak pernah dibiarkan kosong. Tidak pernah. Setiap kursi yang ditinggalkan oleh orang baik, oleh orang yang kompeten, jujur, dan benar-benar peduli tetapi tidak lantas menjadi kursi kosong yang menunggu. Ia langsung diisi oleh orang lain. Selalu.
Maka keraguanmu untuk melangkah bukanlah kenetralan. Diammu bukan ketiadaan keputusan. Tanpa kamu sadari, diam itu sendiri adalah sebuah keputusan, dan keputusan untuk menyerahkan kursi itu kepada orang lain, dan menerima apa pun yang kemudian mereka lakukan dengan kursi itu. Selama orang-orang baik memilih jadi penonton, ruang itu akan selalu diisi oleh orang lain. Dan kita semua sudah cukup lama melihat apa yang terjadi ketika ruang itu diisi oleh orang yang salah.
Jadi pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi, "kenapa mereka tidak memperbaikinya?" Pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih sederhana, dan jauh lebih menantang. Kalau bukan kamu yang masuk, lalu siapa? Dan kalau bukan sekarang, lalu kapan?
Hambatan yang Sebagian Besar Ada di Kepala
Mungkin kamu sudah sampai di sini, dan sebagian dirimu mulai bertanya-tanya. Tapi lalu suara lain di kepalamu langsung menyela, menyodorkan deretan alasan yang terdengar sangat masuk akal.
Saya tidak cukup pintar untuk itu. Tapi siapa, sebenarnya, yang lebih memahami masalah Cianjur? Jelas, seseorang yang setiap hari hidup di tengahnya, atau seseorang yang hanya mampir saat musim kampanye? Kecerdasan yang dibutuhkan di ruang itu bukanlah gelar yang berderet, melainkan kejujuran melihat masalah dan kemauan keras menyelesaikannya.
Itu bukan tempat untuk orang seperti saya. Justru keyakinan inilah yang selama ini menjaga pintu tetap tertutup. Selama puluhan tahun, orang dibuat percaya bahwa politik hanya untuk yang punya nama besar, marga berpengaruh, atau kedekatan dengan elite. Padahal keyakinan itu sendiri yang membuat orang-orang baik mundur, dan menyerahkan ruang itu kepada yang justru paling tidak layak mengisinya.
Saya takut ikut menjadi kotor. Ini ketakutan yang paling layak dihormati, karena ia lahir dari hati nurani. Tapi balik logikanya kalau semua orang yang takut kotor memilih menjauh, siapa yang tersisa untuk membersihkan? Ruang itu tidak akan menjadi bersih dengan dijauhi. Ia hanya menjadi bersih ketika cukup banyak orang bersih yang berani masuk ke dalamnya.
Percuma, suara satu orang tidak akan mengubah apa-apa. Mungkin. Tapi setiap perubahan yang pernah terjadi di mana pun selalu dimulai dari segelintir orang yang menolak percaya pada kata "percuma". Cianjur sudah pernah membuktikannya sendiri, angka stunting yang dulu menyentuh lebih dari 40 persen kini turun drastis menjadi sekitar 7 persen, terendah di Jawa Barat. Itu tidak terjadi dengan sendirinya. Itu terjadi karena ada kemauan, ada kerja, ada orang-orang yang memutuskan untuk tidak menyerah. Kalau stunting bisa, kenapa yang lain tidak?
Lihatlah kembali deretan alasan itu. Hampir semuanya bukan dinding nyata. Hampir semuanya hanya tembok yang kita bangun sendiri di dalam kepala. Dan kabar baiknya, tembok yang kita bangun sendiri selalu bisa kita robohkan sendiri.
Pintu yang Selama Ini Dikunci, Sekarang Sedang Terbuka
Ada satu hal lagi yang membuat momen ini berbeda dari semua momen sebelumnya. Dan ini bukan soal idealisme tetapi ini soal kenyataan yang kebetulan sedang berpihak.
Lebih dari separuh pemilih di negeri ini sekarang adalah anak muda, generasi Z dan milenial. Di Cianjur, dua dari tiga warganya berada di usia produktif. Suara mayoritas ada di tangan yang muda. Tapi coba lihat siapa yang benar-benar duduk mewakili mereka, dan celah itu langsung terlihat: suara yang mayoritas, tapi perwakilan yang minoritas.
Celah itu bukan untuk terus dikeluhkan. Celah itu justru untuk diisi.
Dan untuk pertama kalinya, ada pintu yang sengaja dibuka untuk mengisinya. Pintu yang di tempat lain dijaga ketat oleh mahar, oleh koneksi, oleh nama keluarga di sini sengaja dibuka selebar mungkin. Tanpa mahar. Tanpa rekomendasi elite. Tanpa jaringan khusus. Sebuah jalan masuk di mana orang dinilai dari kapasitas dan kerja nyatanya, bukan dari isi dompet atau kedekatannya.

Pendaftaran bakal calon anggota legislatif DPRD Kabupaten Cianjur untuk periode mendatang akan terbuka, bagi siapa saja yang berani berhenti mengkritik dari pinggir lapangan, dan mulai membangun dari dalam.
Tidak perlu menunggu menjadi sempurna. Tidak perlu menyiapkan segalanya sendirian dari sekarang. Yang dibutuhkan hanya satu hal yang selama ini sudah kamu miliki, kepedulian yang cukup besar untuk membuatmu tidak bisa diam dan kini, keberanian yang cukup untuk mengubahnya menjadi langkah.
Yang Tersisa, Tinggal Satu Langkah
Setiap daerah yang akhirnya bergerak maju selalu punya cerita awal yang sama. Selalu dimulai dari segelintir orang yang suatu hari berhenti menunggu orang lain, lalu memutuskan untuk masuk dan bekerja sendiri.
Cianjur sudah punya cukup banyak penonton. Sudah punya cukup banyak kritik yang bagus, analisis yang tajam, keluhan yang benar. Yang belum cukup ia miliki adalah orang-orang yang bersedia memindahkan semua kepedulian itu dari kolom komentar ke ruang keputusan.
Kamu sudah cukup lama memperhatikan. Kamu sudah cukup paham apa yang salah. Dan kamu sudah cukup peduli untuk merasa, jauh di dalam, bahwa kamu tidak bisa terus-menerus hanya diam.
Surat ini tidak akan memohon. Tidak akan membujuk lebih jauh dari ini. Karena keputusan untuk melangkah, kalau ia datang dari desakan orang lain, tidak akan pernah cukup kuat untuk bertahan menghadapi medan yang sesungguhnya. Keputusan itu harus lahir dari dirimu sendiri.
Maka cukup begini saja.
Kursi itu sedang diisi sekarang. Kalau bukan oleh orang-orang seperti kamu, ia akan diisi oleh orang lain seperti yang selalu terjadi selama ini. Pintunya, untuk pertama kalinya, sedang benar-benar terbuka. Dan sekarang kamu sudah mengetahui itu.
Apa yang kamu lakukan dengan pengetahuan ini, sepenuhnya menjadi keputusanmu.
Salam solidaritas, Hormat saya
Anggarda Giri Rajati Ketua DPD PSI Kabupaten Cianjur
Lanjutkan Membaca



.png&w=3840&q=75)