Idealisme yang Belajar Tidur Nyenyak
.png&w=3840&q=75)
Lama-lama, orang berhenti menertawakan hal-hal yang dulu sering ditertawakannya.
Tetangga yang dulu paling rajin ikut diskusi sekarang lebih sering terlihat sibuk membandingkan harga beras di dua aplikasi. Teman kuliah yang dulu paling lantang menolak ajakan kerja kantor sekarang sudah dua tahun mengenakan ID card dan diam-diam mensyukuri BPJS perusahaan yang menanggung kesehatannya ataupun kesehatan keluarganya bahkan lahiran istrinya. Senior yang dulu tweet-nya selalu panjang dan menggebrak, sekarang feed-nya isinya foto anaknya, kopi pagi, dan sesekali keluhan macet ataupun rencananya kedepan. Bukan karena prinsipnya hilang. Tapi karena hari-harinya sudah terlalu banyak diisi hal-hal yang tidak bisa ditunda.
Dulu mereka kelihatan seperti orang yang mengkhianati diri sendiri. Sekarang, setelah sekian tanggal tua dilewati dengan napas tertahan, setelah sekian kali harus memilih antara servis motor atau bayar paket data, setelah sekian kali menahan diri untuk tidak mengecek saldo karena tahu jawabannya tidak akan menyenangkan mereka mulai kedengaran masuk akal. Bahkan lebih masuk akal dari diri yang dulu.
Begitu cara hidup mengubah perspektif. Bukan karena prinsipnya dijual. Prinsipnya masih ada, hanya pindah laci. Yang berubah adalah jam tidurnya, tanggungannya, dan kapasitasnya untuk marah pada hal-hal yang sebenarnya pantas dimarahi. Sebab marah itu, ternyata, butuh energi. Dan energi itu, ternyata, jumlahnya terbatas. Habis di rapat pagi, di laporan akhir bulan, di obrolan tidak penting dengan atasan yang tidak bisa ditolak ataupun masalah keluarga sehabis pulang kerja.
Lalu pelan-pelan, ada kalimat-kalimat baru yang muncul di kepala. Kalimat yang dulu pasti akan ditertawakan oleh diri yang lebih muda. Yang penting kerja dulu. Yang penting cicilan aman. Yang penting bisa kondangan tanpa harus pinjam dulu. Yang penting tidak telat bayar listrik. Yang penting kalau orang tua sakit, ada tabungan. Kalimat-kalimat yang dulu terdengar borjuis itu setelah dijalani rupanya bukan borjuis. Rupanya itu yang namanya menjaga martabat dengan cara paling tenang yang bisa dilakukan.
Tidak ada yang menyiapkan kita untuk pelajaran semacam ini. Tidak ada kelas yang ngajarin bahwa dewasa itu bukan tentang tahu jawaban lebih banyak, tapi tentang tahu pertanyaan mana yang sebaiknya tidak dilontarkan dulu. Tidak hari ini. Mungkin nanti, kalau cicilan ke-12 sudah lunas. Mungkin nanti, kalau anak sudah masuk SD.
Wajar kalau politik kemudian terdengar seperti suara dari kejenuhan di entah berantah.
Karena kenyataannya politik itu untuk yang masih punya energi. Untuk yang belum punya cicilan. Untuk yang belum tahu rasanya menatap struk rumah sakit sambil menghitung sisa tabungan. Untuk yang belum pernah pulang malam dan menemukan istrinya tertidur sambil masih memegang termometer anak. Untuk yang masih percaya kata-kata bisa mengubah keadaan dalam waktu singkat. Politik untuk mereka. Bukan kita.
Hampir.
Karena ada satu hal kecil yang sering luput, dan ia luput justru karena terlalu dekat untuk dilihat.
Politik yang sesungguhnya bukan tentang yang masih punya tenaga untuk turun ke jalan. Politik yang sesungguhnya tentang kenapa BPJS nunggak dan sering error tepat di hari anak demam tinggi. Tentang kenapa harga beras naik dua minggu menjelang gajian, dan baru turun setelah keluhan ramai di media sosial, itu pun kadang turun separuh saja. Tentang kenapa upah minimum di satu kabupaten bisa beda jutaan dengan kabupaten sebelahnya, padahal harga gas elpiji, harga indomie, harga pertalite di tiap SPBU sama saja. Tentang kenapa kelas menengah merasa selalu yang paling dulu diminta berkorban, dan paling belakang dapat insentif. Tentang kenapa janji rumah subsidi sudah didengar tiga periode dan DP-nya masih saja terasa seperti angka dari kehidupan lain.
Itu politik. Bukan pidato di podium. Bukan ban yang dibakar di jalan. Bukan adu argumen di kolom komentar sampai jam tiga pagi. Bukan poster dengan tinju mengepal yang dipajang sambil diri sendiri belum bayar parkir. Lelah? Pasti, tapi ini paradoksnya.
Politik adalah pertanyaan yang diam-diam muncul setiap kali saldo menipis di tengah bulan, dan tidak ada yang bisa dijadikan kambing hitam selain diri sendiri padahal sebagian besar dari soal itu sebenarnya bukan kesalahan diri sendiri. Politik adalah ketika pulang dari rapat kantor, melihat lampu jalan mati di kompleks rumah, lalu sadar bahwa lampu itu sudah mati tiga bulan dan tidak ada yang berani melapor karena tidak tahu harus ke mana. Politik adalah ketika harus jelaskan ke ibu yang sudah tua, kenapa antrian rumah sakit pakai BPJS bisa selama itu, dan kenapa kalau bayar mandiri jadi terlalu mahal. Politik adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di ruang-ruang sunyi, di tempat-tempat yang tidak ada kameranya, di percakapan-percakapan singkat dengan tukang ojek, dengan ibu kantin, dengan teman lama yang baru ketemu lagi setelah 3 tahun dan ternyata sudah ganti pekerjaan tiga kali.
Politik bukan suara yang paling keras. Politik adalah suara yang paling sering ditelan, dan kemudian tidak ada lagi yang ingat siapa yang menelannya.
Lalu di situ muncul paradoks yang jarang dibicarakan, mungkin karena tidak enak dibicarakan. Pragmatisme yang dianggap sebagai kekalahan idealisme itu, sebenarnya bahan baku paling jujur untuk politik yang berarti. Karena pragmatisme tahu apa yang sakit. Pragmatisme sudah pernah jatuh dan sudah pernah dipungutin ongkos jatuh itu. Pragmatisme tahu bedanya retorika dan realita, karena pernah ditipu sendiri oleh retorika. Pragmatisme tidak mudah diiming-imingi slogan, karena slogan tidak pernah mampu membayar tagihan listrik. Pragmatisme adalah idealisme yang sudah lulus kuliah ekonomi rumah tangga.
Yang bermasalah dari pragmatisme bukan pragmatismenya. Yang bermasalah adalah ketika pragmatisme itu menutup diri, jadi sinis murni, lalu lama-lama berubah jadi semacam dinding tebal yang menolak melihat apapun di luar urusan sendiri. Karena ketika dinding itu terlalu tebal, ada konsekuensi yang biasanya tidak terasa langsung tapi terasa beberapa tahun kemudian, di tagihan-tagihan yang tidak terduga, di kebijakan-kebijakan yang muncul tiba-tiba, di harga-harga yang naik tanpa penjelasan.
Sebab ruang politik itu, seperti ruang kosong di kos-kosan kalau tidak diisi yang satu, akan diisi yang lain.
Dan ruang itu, kalau tidak diisi oleh orang-orang yang pernah merasakan tanggal tua, akan diisi oleh orang-orang yang tanggal tua tidak pernah jadi masalah dalam hidupnya. Yang ke pasar tidak pernah, yang naik angkot tidak pernah, yang menunggu BPJS di lorong rumah sakit tidak pernah, yang mengantri bensin subsidi tidak pernah. Mereka yang akhirnya menyusun aturan yang harus dijalankan oleh orang-orang yang justru paling sering merasakan akibatnya. Itu titik berbahayanya. Bukan dramatis. Tapi pelan, sistemik, dan sangat sulit dibalikkan setelah berjalan dua-tiga periode.
Politik bukan undangan untuk membangkitkan kembali idealisme yang sudah lama dikubur dengan damai. Bukan ajakan untuk kembali debat ideologi sampai urat leher tegang. Bukan permintaan untuk turun ke jalan, membakar ban, atau memposting status panjang setiap malam. Politik justru ruang di mana pragmatisme yang sudah dewasa akhirnya menemukan tempat duduknya. Tempat di mana pengalaman pernah ditipu, pernah lelah, pernah dipaksa hitung-hitungan ketat dengan diri sendiri itu semua menjadi modal. Bukan beban.
Karena orang yang pernah ada di dua sisi yang pernah marah dan sekarang menghitung cicilan, yang pernah debat ideologi dan sekarang ngantri makan siang, yang pernah bilang tidak akan jadi seperti orang tuanya tapi sekarang diam-diam mulai paham keputusan-keputusan orang tuanya justru mereka yang paling dibutuhkan di ruang itu. Bukan karena lebih murni. Justru karena lebih lengkap. Karena tahu bahwa idealisme tanpa pengalaman tanggal tua itu cuma pose. Dan tanggal tua tanpa keberpihakan itu kesepian yang lama-lama berubah jadi pahit.
Tidak perlu kembali jadi diri yang dulu. Yang diam-diam mau mapan tidak perlu malu, sebab kemapanan adalah cara paling sederhana untuk tidak meneror keluarga sendiri. Yang lelah debat tidak perlu kembali debat, sebab debat tidak selalu produktif dan kadang hanya menguras hari. Yang memilih kerja dulu dan mikir negara belakangan tidak salah. Itu pilihan yang masuk akal. Bahkan, dalam banyak hal, lebih terhormat daripada bicara negara tapi numpang hidup di rumah orang tua sampai usia kepala tiga.
Tapi mungkin, di sela-sela cicilan, BPJS, rapat kantor, dan kondangan yang sudah dijadwalkan sebulan ke depan, sekali-sekali ada baiknya menengok lagi.
Bukan untuk menyalakan kembali sesuatu yang sudah padam. Bukan untuk kembali jadi mahasiswa berapi-api yang dulu. Cuma untuk mengingat bahwa banyak hal yang kelihatannya pribadi gaji yang seret, BPJS yang error, cicilan yang mencekik, harga yang tidak masuk akal itu sebenarnya tidak sepenuhnya pribadi. Itu hasil dari banyak keputusan yang diambil di ruang-ruang yang kita sendiri jarang masuki, oleh orang-orang yang kita sendiri jarang awasi, dengan asumsi-asumsi tentang hidup yang sangat berbeda dari asumsi hidup kita sendiri.
Politik bukan musuh dari hidup yang tenang. Politik justru cara kolektif untuk memastikan hidup yang tenang itu bisa dimiliki oleh lebih banyak orang. Termasuk untuk yang besok pagi harus berangkat kerja tanpa tahu apakah motornya sempat diisi bensin. Termasuk untuk ibu di kampung yang antrinya nomor 47 di puskesmas dan baru dipanggil jam dua siang. Termasuk untuk anak SMA yang baru sadar bahwa kuliah negeri pun masih butuh biaya bulanan yang tidak kecil.
Karena pada akhirnya, idealisme yang belajar tidur nyenyak itu bukan idealisme yang mati. Itu idealisme yang sedang belajar dewasa. Yang sudah berhenti berteriak, dan mulai mendengarkan. Yang sudah berhenti membakar ban, dan mulai membaca anggaran. Yang sudah berhenti merasa lebih murni dari orang lain, dan mulai merasa lebih dekat dengan orang banyak.
Dan mungkin, dari kedewasaan itu, satu hari nanti tidak harus hari ini, tidak harus besok politik akan kembali terasa bukan seperti suara dari planet lain. Tapi seperti percakapan yang sudah lama tertunda, dengan diri sendiri yang dulu, yang sedang menunggu di ujung meja, sambil menyeruput kopi yang sudah agak dingin.
Lanjutkan Membaca


