Kebisingan di Jakarta, Kerja Sunyi di Daerah dan Membaca Arah "Turun Gunung" Jokowi

Juni-Juli 2026 datang dengan dua suara yang berbeda.
Di Jakarta, suaranya nyaring dan dingin. Cahaya biru layar televisi memantul di wajah para panelis yang saling memotong kalimat, studio yang terlalu terang, kopi yang tidak sempat diminum, argumen yang sudah disiapkan sebelum lawan bicara selesai berpikir. Linimasa riuh oleh utas-utas panjang yang menebak-nebak ini manuver apa, siapa diuntungkan, siapa dirugikan? Setiap langkah dibaca sebagai siasat. Setiap senyum dicurigai sebagai kode. Politik di sana adalah tontonan yang berganti episode setiap malam, dan penontonnya pulang dengan perasaan yang sama yakni lelah, tapi tidak kenyang.
Di daerah, suaranya lain sama sekali. Suara ban mobil menggerus jalan kabupaten yang belum semuanya mulus. Debu yang masuk lewat celah jendela. Bau kretek dan kopi tubruk di warung tempat sopir berhenti menanyakan arah. Suara pintu kayu yang diketuk, dan jeda sunyi sebelum seseorang di dalam menjawab, "Mangga, lebet." Di sini tidak ada rating. Tidak ada panel. Yang ada hanya pertanyaan-pertanyaan yang terlalu sederhana untuk menjadi berita mulai dari harga pupuk, ongkos anak sekolah, dan kapan jalan diperbaiki.
Di antara dua dunia itulah kabar ini bergerak, Jokowi turun gunung. Setelah Kongres Solo dan Rakernas Makassar memberi mandat organisasi yang jelas, ia mulai berjalan dari Lampung, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat. Bukan untuk tampil di panggung perdebatan, melainkan untuk menyusuri jalan-jalan yang jarang masuk siaran langsung.
Saya menulis ini dari Cianjur, dan dari sini politik terasa berbeda. Politik melelahkan ketika ia hanya ditonton; politik menjadi hidup ketika ia mengetuk pintu. Itulah premis sederhana yang sering dilupakan oleh mereka yang setiap hari membicarakan politik tapi sudah bertahun-tahun tidak menjabat tangan seorang petani.
Keraguan yang Harus Dirawat, Bukan Dimusuhi
Tentu ada yang sinis. Selalu ada, dan itu sehat.
Ada yang menyebut safari ini sekadar political survival yakni cara seorang mantan presiden menjaga relevansi setelah panggung resminya usai. Ada yang membacanya sebagai kelanjutan manuver dinasti, episode baru dari cerita lama tentang kekuasaan yang tidak rela pensiun. Ada pula yang yakin "Jokowi Effect" sudah pudar; publik sudah jenuh, kata mereka, dan elektabilitas tidak bisa diwariskan seperti rumah dan tanah.
Kami tidak menutup mata terhadap sinisme itu. Keraguan publik adalah alarm yang menjaga agar kekuasaan tidak berjalan dalam gelap. Demokrasi yang kehilangan orang-orang skeptisnya justru sedang sakit, ia tinggal menunggu dibawa ke mana saja tanpa bertanya.
Tapi izinkan saya bertanya lebih jauh, dari mana sinisme itu lahir? Ia lahir dari pengalaman, bukan dari kebencian. Orang menjadi sinis terhadap politik karena terlalu sering politik datang hanya menjelang pemilu, seperti tamu yang hanya mengetuk pintu ketika sedang butuh. Orang menjadi sinis karena terlalu lama politik berwujud tontonan dari panggung, sorotan, janji yang dibacakan dari teks, lalu hilang bersama mobil rombongan yang menjauh. Sinisme adalah bekas luka dari harapan yang berkali-kali diingkari. Orang tidak benci politik; orang benci diperlakukan sebagai penonton di negeri mereka sendiri.
Maka kritik-kritik itu tidak perlu dilawan dengan suara lebih keras. Suara keras hanya menambah kebisingan, dan kebisingan adalah habitat asli dari tontonan itu sendiri. Keraguan sedalam itu hanya bisa dijawab dengan sesuatu yang lebih sunyi dan lebih sulit dipalsukan yakni rekam jejak. Sebab kata-kata bisa ditulis oleh konsultan, tapi ingatan kolektif sebuah daerah tidak bisa dipesan.
Cianjur Punya Ingatannya Sendiri
Dan Cianjur punya ingatan itu, ingatan yang tidak tersimpan di arsip berita, melainkan di tubuh.
.png?download=true)
Akhir November 2022, bumi di sini berguncang. Dua puluh detik yang mengubah segalanya. Di Cugenang, tembok-tembok rumah rebah seperti kertas; genting berserakan menjadi pecahan tajam di atas tanah merah yang retak. Ratusan nyawa hilang dan banyak di antaranya anak-anak yang siang itu sedang belajar mengaji. Yang selamat tidur di tenda-tenda darurat dibarengi udara lembap yang menempel di kulit, terpal yang berkeringat embun setiap subuh, dan tanah yang masih sesekali bergetar oleh gempa susulan, seolah belum selesai mengingatkan.
Yang kami ingat dari hari-hari gelap itu bukan hanya bantuan yang datang, bantuan memang datang dari banyak arah, dan untuk semuanya kami berterima kasih. Yang kami ingat adalah caranya.
Presiden ketika itu tidak memerintah dari balik meja di Jakarta. Ia datang. Lalu datang lagi. Sepatunya menginjak reruntuhan yang sama dengan yang diinjak para relawan. Ia masuk ke tenda-tenda pengungsian yang pengap, duduk di terpal yang sama, dan melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa dilatih oleh tim protokol mana pun, menggenggam tangan ibu-ibu yang kehilangan tangan yang dingin dan masih gemetar dan menggenggamnya cukup lama, tanpa kata-kata, sampai gemetar itu sedikit mereda. Tidak ada naskah untuk momen seperti itu. Kamera boleh merekamnya, tapi kamera tidak menciptakannya.
Lalu ia kembali. Memeriksa langsung pembangunan rumah-rumah RISHA, satu per satu, memastikan bantuan tunai benar-benar sampai ke genggaman yang berhak bukan berhenti di meja birokrasi atau menguap di tengah jalan. Berkali-kali, sampai warga Cugenang hafal polanya, jikalau beliau datang, berarti ada yang sedang dicek, bukan sedang difoto.
Itulah yang sering luput dari analisis para pengamat, yang setia diingat rakyat bukan figur, melainkan metode. Metode hadir. Metode memeriksa. Metode kembali.
Di sinilah tontonan itu patah. Tontonan menjaga jarak antara panggung dan penonton; kehadiran menghapusnya. Tontonan membutuhkan naskah namun genggaman tangan tidak. Dan bagi kami yang bekerja di daerah, safari Juni 2026 ini tidak pernah kami baca sebagai pemujaan terhadap satu nama. Kultus individu adalah jalan pintas yang malas, dan partai yang menggantungkan hidupnya pada satu figur sedang menabung kekecewaan untuk masa depannya sendiri. Yang sedang kami kerjakan adalah sesuatu yang lebih lambat dan lebih sukar yakni melembagakan metodologi empati itu menjadikannya cara kerja organisasi, prosedur yang diwariskan dari pengurus ke pengurus, bukan karisma yang ikut pensiun bersama pemiliknya. Itulah sebabnya kedatangannya masih ditunggu di akar rumput Jawa Barat, termasuk di Cianjur, bukan karena orang merindukan masa lalu, tapi karena orang merindukan cara bekerja yang membuat mereka merasa terlihat. Sebab luka terdalam orang kecil bukanlah kemiskinan, melainkan perasaan tidak dianggap ada.
Yang Tampak dari 32 Kecamatan
Dari Jakarta, peta politik tampak seperti papan catur. Dari sini, ia tampak seperti yang sebenarnya, di 32 kecamatan dan ratusan desa yang membentang dari kaki Gede-Pangrango yang berkabut sampai pantai selatan yang ombaknya tidak pernah ramah. Ada desa yang ditempuh empat jam dari pusat kota lewat jalan yang menguji nyali dan suspensi. Ada kampung yang sinyalnya hanya hidup di satu titik dekat masjid, tempat anak-anak muda berkumpul setiap malam menumpang masa depan.
Di wilayah seperti ini, politik tidak bisa dikerjakan lewat siaran pers. Ia harus dikerjakan dengan kaki.

Maka kerja sunyi itu kami terjemahkan ke dalam hal-hal yang bisa dipegang. Di Gekbrong, sebuah pasar rakyat baru berdiri puluhan kios sederhana yang sengaja dibebaskan dari sewa selama tiga bulan pertama. Di atas kertas, itu hanya satu baris kebijakan. Tapi cobalah berdiri sebentar di kepala seorang pedagang kecil yang selama ini ingin berjualan namun selalu kalah sebelum mulai, modal yang pas-pasan sudah habis untuk sewa sebelum dagangan pertama laku, dan satu-satunya jalan keluar adalah pintu rentenir yang bunganya mencekik pelan-pelan. Tiga bulan tanpa sewa, bagi orang seperti itu, bukan sekadar diskon. Ia adalah ruang bernapas. Ia adalah izin untuk mencoba tanpa langsung dihukum oleh utang. Ia adalah pesan yang lebih fasih dari seribu pidato, kamu boleh berdiri dulu, baru kami minta kamu berlari.
Keputusasaan struktural bekerja seperti itu bukan dengan melarang orang bermimpi, melainkan dengan membuat setiap mimpi terasa terlalu mahal di langkah pertama. Dan melembagakan empati, dalam praktiknya, sesederhana ini mencari di mana langkah pertama itu paling berat, lalu meringankannya. Tidak ada teori politik makro di sana. Yang ada hanya keyakinan tua yang tidak pernah usang bahwa orang kecil yang mau bekerja keras berhak diberi pijakan, bukan sekadar janji.
Ketika para elit di Jakarta meributkan teori-teori politik makro, kami di daerah sedang sibuk belajar bagaimana memastikan roda ekonomi di pasar bawah tetap berputar dan bagaimana menghormati orang-orang kecil yang mau bekerja keras.
Dua kesibukan itu tidak saling meniadakan. Tapi hanya satu yang akan diingat warga lima tahun dari sekarang.
Politik yang Tidak Panik dan Tidak Jumawa
Lama-lama, orang berhenti menertawakan hal-hal yang dulu sering ditertawakannya. Partai kecil yang dulu dianggap mainan anak muda, kini disambut di balai-balai desa. Cara kerja yang dulu disebut pencitraan, kini justru ditagih warga kepada semua politisi, kenapa yang lain tidak begitu? Ejekan, jika ditanggapi dengan kerja yang konsisten, lambat laun berubah menjadi pertanyaan dan pertanyaan adalah awal dari kepercayaan.
Di titik inilah saya memahami arti kedewasaan politik progresif, politik yang tidak panik ketika dikritik, dan tidak jumawa ketika dipuji. Politik yang memperlakukan keraguan publik sebagai cermin, bukan musuh. Politik yang mengukur dirinya bukan dari riuhnya tepuk tangan, melainkan dari sepinya kerja yang tetap dikerjakan ketika tidak ada kamera. Kamera boleh mati; kerja tidak boleh.
Safari Juni 2026 ini, bagi kami, adalah kick-off panjang menuju 2029. Tiga tahun bukan waktu yang pendek, dan justru di situlah ujiannya, ketulusan bisa dipalsukan dalam satu kunjungan, tapi tidak dalam seratus. Yang bertahan sampai garis akhir bukan yang paling nyaring di awal, melainkan yang paling tahan berjalan dalam sunyi.
Maka ini sekaligus ajakan kepada siapa pun yang sudah lelah dengan politik baliho, berhentilah memandang politik sebagai deretan wajah tersenyum di pinggir jalan yang akan diturunkan begitu hitungan suara selesai. Pandanglah ia sebagai komitmen untuk bernapas bersama warga. Datang ketika susah, hadir ketika sepi, dan tetap mengetuk pintu ketika tidak ada yang menonton.
Kebisingan akan selalu menang di Jakarta ia menang setiap malam, di setiap layar. Tapi sejarah, saya percaya, lebih sering ditulis oleh kerja-kerja sunyi di daerah oleh tangan yang menggenggam tangan, oleh kios yang dibukakan pintunya, oleh langkah-langkah berdebu yang tidak pernah masuk berita namun tidak pernah dilupakan oleh orang-orang yang didatanginya.
Lanjutkan Membaca

.png&w=3840&q=75)
